Kisah ini terjadi disebuah ruang tamu sebuah keluarga kecil namun cukup berada. Di ruangan itu terdapat meja tamu beserta vas bunga diatasnya dan dua buah sofa yang tersusun rapi. Di sudut ruangan terdapat sapu sebuah ijuk. Drama ini terjadi pada sekitar pikul 19.00.
Para pelaku :
1. Ibu : ibu ini berusia 30 tahun, penyanyang pada keluarga, patuh terhadap suami.
2. Pak kikir : Pak kikir adalah kepala rumah tangga yang tegas dan agak kejam, gegabah dan sangat pelit.
3. Saleh : saleh adalah seorang anak yang baik hati, suka menabung dan penyanyang kepada keda orang tuanya.
4. Pak RT : seorang RT yang jujur dan baik hati.
1. Dengan perasaan santai, bibir ibu bergumam-gumam menirukan lagu yang sangat keras terdengar dari radio sembari membalik- balikan halaman majalah langganannya. Ibu terkejut ketika musik tiba-tiba berhenti.
2. Pak kikir : ( Pak kikir muncul ke arah Ibu lalu merampas majalah dari tangan Ibu). Bu, kemana uang bapak yang 50 ribu rupiah? Apa ibu mengambilnya?
3. Ibu : Astaga Bapak... mbo ya dicari dulu to. Jangan asal tuduh, dosa lho.
4. Pak kikir : justru karena sudah Bapak cari-cari nggak ketemu, makanya bapak tanya Ibu, lha siapa lagi di rumah ini kalau bukan ibu ?
5. Ibu : Pak.. walaupun bapak nggak pernah ngasih uang belanja buat ibu. Mana berani ibu. Ya ngak mungkin lah pak ibu ngambil uangnya bapak.
6. Pak kikir : Halah...! Ibu jangan bohong ! ayo cepat kembalikan uang bapak ( menarik baju ibu dan merogoh-rogoh kantung ibu)
7. Ibu : Bapak ini apa-apaan sih? ( suara ibu mengeras seraya menghindari bapak ). Sama istri sendiri kok begitu ?
8. Pak kikir : ( menarik tangan ibu). Sudah ! gak usah bohong ! istri macam apa kamu? Tidak sudi aku punya istri pencuri? ( mendorong ibu hingga ibu jatuh kelantai).
9. Saleh : ( muncul sambil membawa bungkusan besar ). Ada apa bu, pak? Ibu kenapa menangis ?
10. Pak kikir : Yang begini ini jangan kamu tiru Saleh. Asal kamu tau, Ibumu ini sudah mencuri uang bapak 50 ribu tapi belum juga mau mengaku. Mau jadi ibu macam apa dia?
11. Saleh : ( meletakan bukusan yang ia bawa ke atas meja lalu menuntun ibunya bangkit)
12. Pak kikir : lha, apa ini Saleh ? ( baru menyadari bungkusan yang dibawa saleh). Oh, jadi kamu yang mengambil uang bapak ya? Masih kecil sudah berani mencuri kamu ya?
13. Saleh : bu..bu..bukan pak ( ketakutan ).
14. Pak kikir : lha ini buktinya apa? ( membanting vas bunga yang ada di meja guna memperlihatkan bungkusan yang ada di meja). Kamu pasti ngambiluang bapak lalu kamu belanjakan ini, ia kan? Darimana lagi kamu mendapatkan uang untuk membeli ini kalau bukan mencuri uang bapak? ( membentak).
15. Saleh : ( meringkuk ketakutan mendekati ibu). Aa.. anu pak.. itu pakai uang saleh sendiri.
16. Pak kikir : Alaah... masih juga berani bohong. Dasar anak kurang ajar ! ( menempeleng saleh lalu menendangnya)
17. Saleh : Ampun pak.. ampun.. ampun.. ( saleh tidak dapat berkata apa-apa dan hanya dapat mengatakan ‘Ampun’).
18. Pak kikir : ( mengambil sapu lalu memukul saleh hingga pingsan)
19. Ibu : sudah pak ! ( berteriak lalu menggendong saleh pergi keluar dari rumah)
20. Pak kikir : pergi saja sana ! pergi ! ( berteriak sambil mengacungkan sapu lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa). Dasar anak kurang ajar !
21. Pak RT : ( tak lama kemudia pak RT muncul agak berlari). Pak kikir. Pak kikir!
22. kikir : Ehem ! ada perlu apa pak RT datang tanpa permisi begitu?
23. Pak RT : Eh, maaf pak Kikir, anu.. saya datang kesini mau mengantar uang 50 ribu rupiah milik pak Kikir.
24. Pak kikir : Lho, kenapa bisa ada sama pak RT uang saya? (raut wajah agak keheranan)
25. Pak RT : Begini.. tadi waktu Pak Kikir pergi setelah bertamu ke rumah saya, saya lihat uang Pak Kikir ini terjatuh dari kantong celananya pak Kikir. Saya mau mengejar pak kikir, eeh pak Kikirnya sudah pergi naik motor.
26. Pak kikir : Hah ! jadi uang saya tadi terjatuh di rumah pak RT? ( tertegun sejenak dengan pandangan kosong)
27. Pak RT : Ia pak Kikir ( sembari menyerahkan uang kepada pak Kikir)
28. Pak kikir : ( menyambut uang lalu berbalik menatap bungkusan yang ada diatas meja). Lalu ini apa?
29. Pak RT : Lalu apanya pak Kikir? (Kebingungan melihat pak kikir).
30. Pak kikir : (membuka bungkusan dan terkejut melihat isinya). Pak RT coba lihat kemari !
31. Pak RT : ( melongok ke bungkusan) Oh, bapak dapat hadiah kue ulang tahun, itu tulisannya “Happy Birthday “ dan ada suratnya juga. ngomong-ngomong dari siapa pak Kikir? ( sambil tersenyum) selamat ulang tahun ya pak kikir.
32. Pak kikir : (terdiam nampak sedih).
33. Pak RT : Loh, kok bapak keliatan sedih?
34. Pak kikir : pak, tolong bacakan saya isi suratnya !
35. Pak RT : “ Bapak, selamat ulang tahun ya. Saleh sayang Bapak sama Ibu. Selama ini saleh sisihkan uang jajan saleh untuk belikan bapak ini. Diterima ya pak walaupun hadiah saleh sederhana semoga bapak senang. Selamat ulang tahun bapak”. Oh, hadiahnya dari saleh pak, anak bapak.
36. Pak kikir : ( menangis lalu bangkit dari sofa). Saleh ! Ibu ! ( berteriak lalu berlari keluar meninggalkan pak RT sendirian di ruangan.
37. Pak RT : ( nampak kebingungan). Ada apa sih dengan pak Kikir? Dikasih hadiah kok malah nangis, terus kabur? Alah mboh. Orang jaman sekarang pada aneh semua. Mending saya pulang saja. ( melangkah pergi meninggalkan ruangan)
to To get file of this dock klick herePenyesalan seorang Ayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar