Senin, 16 April 2012

Always Be My Baby_David Cook

We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine

Now you want to be free
So I'm letting you fly
'Cause I know in my heart babe
Our love will never die, no

You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

Dhum ... Dhum ...

I ain't gonna cry no
And I won't beg you to stay
If you're determined to leave girl
I will not stand in your way

But inevitably you'll be back again
'Cause you know in your heart babe
Our love will never end, no

You'll always be a part of me
I'm part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

And we'll linger on and on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling,'cause you'll always be my baby

(I know that you'll be back Girl)
When your days and your nights get a little bit colder, oh
(I know that)
You'll be right back, baby
OOww Well, baby believe me it's only a matter of time ...

You'll always be apart of me
And I'm part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

And we'll linger on and on
(And we will linger on and on)
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling, 'cause you'll always be my ... My baby

You'll always be apart of me
And I'm part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

(You and I will always be)
And we'll linger on and on
Time can't erase a feeling this strong
(You and I)
No way you're never gonna shake me
(You and I)
Ooh darling, 'cause you'll always be my baby

Always Be My Baby ....

Rabu, 11 April 2012

Penyesalan Seorang Ayah


Kisah ini terjadi disebuah ruang tamu sebuah keluarga kecil namun cukup berada. Di ruangan itu terdapat meja tamu beserta vas bunga diatasnya dan dua buah sofa yang tersusun rapi. Di sudut ruangan terdapat sapu sebuah ijuk. Drama ini terjadi pada sekitar pikul 19.00.
Para pelaku :
1.      Ibu                   : ibu ini berusia 30 tahun, penyanyang pada keluarga, patuh terhadap                       suami.
2.      Pak kikir          : Pak kikir adalah kepala rumah tangga yang tegas dan agak kejam,                          gegabah dan sangat pelit.
3.    Saleh               : saleh adalah seorang anak yang baik hati, suka menabung dan                                             penyanyang kepada keda orang tuanya.
4.      Pak RT            : seorang RT yang jujur dan baik hati.

1.      Dengan perasaan santai, bibir ibu bergumam-gumam menirukan lagu yang sangat keras  terdengar dari radio sembari membalik- balikan halaman majalah langganannya. Ibu terkejut ketika musik tiba-tiba berhenti.
2.      Pak kikir          : ( Pak kikir muncul ke arah Ibu lalu merampas majalah dari tangan                            Ibu). Bu, kemana uang bapak yang 50 ribu rupiah? Apa ibu                               mengambilnya?
3.      Ibu                   : Astaga Bapak... mbo ya dicari dulu to. Jangan asal tuduh, dosa lho.
4.      Pak kikir          : justru karena sudah Bapak cari-cari nggak ketemu, makanya bapak                         tanya Ibu, lha siapa lagi di rumah ini kalau bukan ibu ?
5.      Ibu                   : Pak.. walaupun bapak nggak pernah ngasih uang belanja buat ibu. Mana                  berani ibu. Ya ngak mungkin lah pak ibu ngambil uangnya bapak.
6.      Pak kikir          : Halah...! Ibu jangan bohong ! ayo cepat kembalikan uang bapak                             ( menarik baju ibu dan merogoh-rogoh kantung ibu)
7.      Ibu                   : Bapak ini apa-apaan sih? ( suara ibu mengeras seraya menghindari                bapak ). Sama istri sendiri kok begitu ?
8.      Pak kikir          : ( menarik tangan ibu). Sudah ! gak usah bohong ! istri macam apa                             kamu? Tidak sudi aku punya istri pencuri? ( mendorong ibu hingga                ibu jatuh kelantai).
9.      Saleh               : ( muncul sambil membawa bungkusan besar ). Ada apa bu, pak? Ibu                        kenapa menangis ?
10.  Pak kikir          : Yang begini ini jangan kamu tiru Saleh. Asal kamu tau, Ibumu ini                            sudah mencuri uang bapak 50 ribu tapi belum juga mau mengaku.                            Mau jadi ibu macam apa dia?
11.  Saleh               : ( meletakan bukusan yang ia bawa ke atas meja lalu menuntun ibunya                     bangkit)
12.  Pak kikir          : lha, apa ini Saleh ? ( baru menyadari bungkusan yang dibawa saleh).                      Oh, jadi kamu yang mengambil uang bapak ya? Masih kecil sudah                   berani mencuri kamu ya?
13.  Saleh               : bu..bu..bukan pak ( ketakutan ).
14.  Pak kikir          : lha ini buktinya apa? ( membanting vas bunga yang ada di meja guna                     memperlihatkan bungkusan yang ada di meja). Kamu pasti                            ngambiluang bapak lalu kamu belanjakan ini, ia kan? Darimana lagi               kamu mendapatkan uang untuk membeli ini kalau bukan mencuri                                    uang bapak? ( membentak).
15.  Saleh               : ( meringkuk ketakutan mendekati ibu). Aa.. anu pak.. itu pakai uang                      saleh sendiri.
16.  Pak kikir          : Alaah... masih juga berani bohong. Dasar anak kurang ajar !                                    ( menempeleng saleh lalu menendangnya)
17.  Saleh               : Ampun pak.. ampun.. ampun.. ( saleh tidak dapat berkata apa-apa dan                   hanya dapat mengatakan ‘Ampun’).
18.  Pak kikir          : ( mengambil sapu lalu memukul saleh hingga pingsan)
19.  Ibu                   : sudah pak ! ( berteriak lalu menggendong saleh pergi keluar dari                               rumah)
20.  Pak kikir          : pergi saja sana ! pergi ! ( berteriak sambil mengacungkan sapu lalu              menjatuhkan tubuhnya di sofa). Dasar anak kurang ajar !
21.  Pak RT            : ( tak lama kemudia pak RT muncul agak berlari). Pak kikir. Pak                               kikir!
22.  kikir                 : Ehem ! ada perlu apa pak RT datang tanpa permisi begitu?
23.  Pak RT            : Eh, maaf pak Kikir, anu.. saya datang kesini mau mengantar uang                           50 ribu rupiah milik pak Kikir.
24.  Pak kikir          : Lho, kenapa bisa ada sama pak RT uang saya? (raut wajah agak                               keheranan)
25.  Pak RT            : Begini.. tadi waktu Pak Kikir pergi setelah bertamu ke rumah saya,                        saya lihat uang Pak Kikir ini terjatuh dari kantong celananya pak                                   Kikir. Saya mau mengejar pak kikir, eeh pak Kikirnya sudah pergi                  naik motor.
26.  Pak kikir          : Hah ! jadi uang saya tadi terjatuh di rumah pak RT? ( tertegun                                 sejenak dengan pandangan kosong)
27.  Pak RT            : Ia pak Kikir ( sembari menyerahkan uang kepada pak Kikir)
28.  Pak kikir          : ( menyambut uang lalu berbalik menatap bungkusan yang ada diatas                        meja). Lalu ini apa?
29.  Pak RT            : Lalu apanya pak Kikir? (Kebingungan melihat pak kikir).
30.  Pak kikir          : (membuka bungkusan dan terkejut melihat isinya). Pak RT coba lihat                       kemari !
31.  Pak RT            : ( melongok ke bungkusan) Oh, bapak dapat hadiah kue ulang tahun,                        itu tulisannya “Happy Birthday “ dan ada suratnya juga.                                                  ngomong-ngomong dari siapa pak Kikir? ( sambil tersenyum)                             selamat ulang tahun ya pak kikir.
32.  Pak kikir          : (terdiam nampak sedih).
33.  Pak RT            : Loh, kok bapak keliatan sedih?
34.  Pak kikir          : pak, tolong bacakan saya isi suratnya !
35.  Pak RT            : “ Bapak, selamat ulang tahun ya. Saleh sayang Bapak sama Ibu.                               Selama ini saleh sisihkan uang jajan saleh untuk belikan bapak ini.                   Diterima ya pak walaupun hadiah saleh sederhana semoga bapak                                  senang. Selamat ulang tahun bapak”. Oh, hadiahnya dari saleh pak,                  anak bapak.
36.  Pak kikir          : ( menangis lalu bangkit dari sofa). Saleh ! Ibu ! ( berteriak lalu berlari                       keluar meninggalkan pak RT sendirian di ruangan.
37.  Pak RT            : ( nampak kebingungan). Ada apa sih dengan pak Kikir? Dikasih                               hadiah kok malah nangis, terus kabur? Alah mboh. Orang jaman                                 sekarang pada aneh semua. Mending saya pulang saja. ( melangkah                        pergi meninggalkan ruangan) 


to  To get file of this dock klick herePenyesalan seorang Ayah


Minggu, 08 April 2012

Iklan Rokok

hhmm... Satu semester hampir berlalu, senyum ini masih tetap rusak. Hatiku tak pernah menuruti pikiranku. gengsi memaksa untuk tetap riang, hati menyuruhku ikuti insting tuk menangis, keluarkan airmata, pudarkan senyum manis, tetap kenang kepedihan karenanya yang pada logikanya hanya akan membunuhku perlahan-lahan.
"Hidupkanlah duniaku yang redup ini. kembalikan senyum yang dulu" , jeritan hati ini takkan pernah berhenti entah sampai kapan. Aku hanya bisa berpura-pura tuk bahagia, yah... pura-pura adalah cara satu-satunya tuk tetap hidup, bertahan terus melangkah. Semoga saja kepura-puraan ini membiasakanku untuk bahagia, mengajari aku bagaimana caranya untuk tetap bahagia, tersenyum hadapi perih hingga luruhkan pahitnya asa. Aku yakin senyum yang sejati dari bibir ini akan muncul suatu saat nanti.
YANG LAIN APA ADANYA
GUE BERSANDIWARA ^_^